Selasa, 27 November 2012

Sayyidah Fatimah Azzahra



Mengenal Sayyidah Fatimah Azzahra
Sayyidah Fatimah hidup dan tumbuh besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ibundanya Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan tangguh yang setia mendampingi Rasulullah dan mengorbankan seluruh harta kekayaannya untuk dakwah islam. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki kedudukan yang tinggi dikalangan Quraisy.
Kelahirannya
Fatimah dilahirkan pada tahun ke-5 setelah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan Mi'raj beliau. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil Akhir, di kota suci Makkah.
Pernikahan Fatimah
Setelah Fatimah mencapai usia dewasa dan tiba pula saatnya untuk menikah, banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya. Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya (Fatimah).”[Tadzkirah Al-Khawash, hal.306]
Kemudian, Jibril  datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa Allah telah memerintahkan untuk menikahkan Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tak lama setelah itu, Ali datang menghadap Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah. Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana pendapatmu atas pinangan ini?” Fatimah diam, lalu Rasulullah pun mengangkat suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.” [Dzkha’irAl-Ukba, hal. 29]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kembali menemui Ali sambil mengangkat tangan sang menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’ Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”
Kemudian, Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan yang terkutuk.” Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”
Acara pernikahan itu berlangsung dengan kesederhanaan. Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia bermaksud menjual pedangnya, tetapi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Keluarga Teladan
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru ini. Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar, letaknya di samping masjid Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam. Mereka menemukan saat-saat indah bukan dalam kemewahan dan rumah tangga yang gemerlap, tapi pada waktu bersujud dan isak tangis dihadapan Yang Mahakuasa. Rasulullah  shallallaahu 'alaihi wa sallam membimbing keluarga muda ini dengan penuh perhatian.
Pada suatu hari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam menemukan Fatimah sedang menggiling tepung. Ia memakai pakaian dari kulit unta, nabi menangis dan ia berkata, “Wahai Fatimah, kau teguk kepahitan dunia ini untuk kebagahiaan di akhirat nanti”. Fatimah berkata, “Alhamdulillah atas segala nikmat-nya dan syukur kepada Allah atas segala anugerah-Nya.” [Tafsir al-Tsa’labi, Al-Qusyairi, dan al-Dur al-Mantsur]
Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama. Kehidupan keluarga dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati. Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan teladan bagi kehidupan suami istri yang bahagia. Azzahra senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, membantunya berjihad dan berperang bersama Rasulullah menegakkan kalimat tauhid. Bahkan dalam peperangan, Fatimah sering ikut dan merawat luka Rasulullah dan suaminya sendiri. Ia menghilangkan sakitnya, membuang keletihannya, sehingga Ali mengatakan, “ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku” [Al-Khawarizmi, Al-Manaqib,hal. 256]
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun. “Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayyidah Fatimah sendiri menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin” wahai pemimpin kaum mukmin. Demikianlah kehidupan Imam Ali dan Sayyidah Fatimah. Keduanya adalah teladan bagi pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
Buah Hati
Keluarga Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya. Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam diberi nama “Hasan”. Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam sangat bergembira atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya, kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam dari Fatimah Azzahra. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan. Suatu hari Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam lewat di depan rumah Fatimah. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah melahirkan Zainab. Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika menamai kedua putri Fatimah itu dengan nama-nama tersebut. Dan begitulah Allah menghendaki keturunan Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam  berasal dari putrinya Fatimah Azzahra.
Riwayat Keutamaan Azzahra
Muhammad Al Baqir ibn Ali Assajjad ibn Husain putra Fatimah mengatakan, “Mengapa Fatimah dinamakan Azzahra?” ia menjawab, “karena Allah menciptakannya dari cahaya keagungan-Nya, ketika ia bersinar , ia menerangi langit dan bumi dengan cahayanya, menutupi pandangan-pandangan para malaikat lalu mereka sujud kepada Allah dan bertanya, “Tuhan kami dan junjungan kami, cahaya apakah ini? Maka Allah menjawab, ‘ini adalah cahaya dari cahaya-Ku. Aku tempatkan ia dilangit-Ku dan aku ciptakan dia dari keagungan-Ku. Aku keluarkan dia dari sulbi seorang Nabi-ku yang Aku utamakan atas sekalian Nabi.. ” [ Al-Bihar, Jus 43. Hal 12]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam  mengatakan, “cukuplah bagimu wanita-wanita di seluruh alam dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid.Fatimah binti Muhammad, dan Asiyah binti Muzahim” [Kasyf Al-Ghummah, II, hal. 76]
Aisyah mengatakan “Belum pernah saya melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibandingkan Fatimah, kecuali ayahnya.” [Kasyf Alghummah II,hal. 8; Dzakha’ir Al-‘Ukba, hal. 44]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam` mengatakan, “wahai Fatimah, sesungguhnya Allah marah dengan kemarahanmu dan rida dengan keridaanmu” [Yanabi’ Al-Mawaddah, hal. 99]
Kita ketahui dengan pasti, Allah tidak akan rida kepada sesuatu yang buruk dan bertentangan dengan kebenaran.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam  juga mengatakan “Fatimah adalah bagian dari diriku, barang siapa membuatnya marah berarti ia membuatku marah.” [Shahih Al-Bukhari, II, hal.203]
Dapat kita perhatikan di sini bahwa Fatimah juga memiliki akhlak yang agung serta suci dari dosa dan kejahatan, karena Nabi sendiri adalah utusan Allah yang suci. Sebagaimana tentangnya Allah berfirman, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi pekerti yang luhur. [QS. Al-Qalam ayat 4]
Fatimah adalah salah satu Ahlulbait (keluarga keturunan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam), yang disebutkan dalam Al-Qur'an ...sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya [QS. Al-Ahzaab ayat 33]
Imam Hasan meriwayatkan, “Aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan salat dengan begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak.” Imam Hasan juga meriwayatkan:
“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri salat pada malam Jumat. Beliau meneruskan salatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku mendengar beliau berdoa untuk kaum mu’minin dan mu’minah dengan menyebut nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau tidak berdoa untuk dirinya sendiri. “Ibu,” Aku bertanya kepada beliau “Mengapa ibu tidak berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?” Beliau menjawab, ”Anakku, (berdoalah) untuk tetangga-tetanggamu diutamakan dan kemudian barulah dirimu sendiri.” [Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm.81-82; Abu Muhammad Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169; Sayyid Abdul Razak Kammoonah Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juz 13, hlm.45]
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.“
Kecintaan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada Fatimah Azzahra merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam  biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Beliau mencintai dan memuji Fatimah sedemikian, semata-mata karena mengetahui kedudukannya yang tinggi. Dialah perempuan teladan dalam islam.
Pandangan Tentang Perempuan
Fatimah ditanya tentang apa yang paling baik untuk perempuan? “yang baik bagi perempuan adalah mereka tidak memandang laki-laki dan laki-laki tidak memandang mereka” beliau ingin menegaskan disini pentingnya menjaga hijab dan kesucian diri. Fatimah adalah perempuan yang selalu menjaga harga dirinya dan memelihara kemuliaannya. Ia berhijab dan keluar dari rumahnya dengan sederhana tanpa berlebihan, menutupi tubuhnya yang dapat menggoda dan juga perhiasannya dari laki-laki nonmuhrim, tidak memandang mereka dan mereka tidak memandangnya.
Detik-detik Terakhir Kehidupan Fatimah
Kecintaan Fatimah kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.” Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Azzahra mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya.
Fatimah berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Azzahra menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tak lama sepeninggal Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, Sayyidah Fatimah Azzahra menyusul kehadirat Ilahi. Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Azzahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan.

1 komentar:

  1. Playtech Casino - Mapyro
    Playtech Casino 바카라 신규 가입 쿠폰 is an online gambling site providing a wide 군포 출장안마 variety of betting options for 구리 출장마사지 residents of the US. 제천 출장샵 Welcome Bonus: $50 free + 100 통영 출장샵

    BalasHapus