Mengenal Sayyidah Fatimah Azzahra
Sayyidah Fatimah hidup dan tumbuh
besar di haribaan wahyu Allah dan kenabian Muhammad shallallaahu 'alaihi wa
sallam. Beliau dibesarkan di dalam rumah yang penuh
dengan kalimat-kalimat kudus Allah SWT dan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ibundanya
Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan tangguh yang setia
mendampingi Rasulullah dan mengorbankan seluruh harta kekayaannya untuk dakwah
islam. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang memiliki kedudukan yang tinggi
dikalangan Quraisy.
Kelahirannya
Fatimah dilahirkan pada tahun
ke-5 setelah Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam
diutus menjadi Nabi, bertepatan dengan tiga tahun setelah peristiwa Isra’ dan
Mi'raj beliau. Ia lahir pada hari Jumat, 20 Jumadil
Akhir, di kota suci Makkah.
Pernikahan Fatimah
Setelah Fatimah mencapai usia dewasa dan tiba pula
saatnya untuk menikah, banyak dari sahabat-sahabat yang berupaya meminangnya.
Di antara mereka adalah Abu Bakar dan Umar. Rasulullah shallallaahu
'alaihi wa sallam menolak semua pinangan mereka. Kepada mereka beliau
mengatakan, “Saya menunggu keputusan wahyu dalam urusannya
(Fatimah).”[Tadzkirah Al-Khawash, hal.306]
Kemudian, Jibril datang untuk mengabarkan kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa Allah telah memerintahkan untuk menikahkan
Fatimah dengan Ali bin Ali Thalib. Tak lama setelah itu, Ali datang menghadap
Rasulullah dengan perasaan malu menyelimuti wajahnya untuk meminang Fatimah.
Sang ayah pun menghampiri putri tercintanya untuk meminta pendapatnya seraya
menyatakan, “Wahai Fatimah, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang telah kau
kenali kekerabatan, keutamaan, dan keimanannya. Sesungguhnya aku telah memohonkan
pada Tuhanku agar menjodohkan engkau dengan sebaik-baik mahkluk-Nya dan seorang
pecinta sejati-Nya. Ia telah datang menyampaikan pinangannya atasmu, bagaimana
pendapatmu atas pinangan ini?” Fatimah diam, lalu Rasulullah pun mengangkat
suaranya seraya bertakbir, “Allahu Akbar! Diamnya adalah tanda kerelaannya.”
[Dzkha’irAl-Ukba, hal. 29]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam kembali menemui Ali sambil mengangkat tangan sang
menantu seraya berkata, “Bangunlah! ‘Bismillah, bi barakatillah, masya’
Allah la quwwata illa billah, tawakkaltu ‘alallah.”
Kemudian, Nabi shallallaahu
'alaihi wa sallam menuntun Ali dan mendudukkannya di samping Fatimah. Beliau
berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya keduanya adalah makhluk-Mu yang paling aku
cintai, maka cintailah keduanya, berkahilah keturunannya, dan peliharalah
keduanya. Sesungguhnya aku menjaga mereka berdua dan keturunannya dari setan
yang terkutuk.” Rasulullah mencium keduanya sebagai tanda ungkapan selamat
berbahagia. Kepada Ali, beliau berkata, “Wahai Ali, sebaik-baik istri adalah
istrimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”
Dan kepada Fatimah, beliau menyatakan, “Wahai Fatimah, sebaik-baik suami adalah suamimu.”
Acara pernikahan itu berlangsung dengan kesederhanaan.
Saat itu, Ali tidak memiliki sesuatu yang bisa diberikan sebagai mahar kepada
sang istri selain pedang dan perisainya. Untuk menutupi keperluan mahar itu, ia
bermaksud menjual pedangnya, tetapi Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam mencegahnya, karena Islam memerlukan pedang
itu, dan setuju apabila Ali menjual perisainya.
Keluarga Teladan
Setelah menjual perisai, Ali menyerahkan uangnya
kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam. Dengan uang tersebut beliau menyuruh Ali untuk membeli minyak wangi dan
perabot rumah tangga yang sederhana guna memenuhi kebutuhan keluarga yang baru
ini. Kehidupan mereka sangat bersahaja. Rumah mereka hanya memiliki satu kamar,
letaknya di samping masjid Nabi shallallaahu 'alaihi wa
sallam. Mereka menemukan saat-saat indah bukan dalam kemewahan dan rumah tangga
yang gemerlap, tapi pada waktu bersujud dan isak tangis dihadapan Yang
Mahakuasa. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam membimbing keluarga
muda ini dengan penuh perhatian.
Pada suatu hari Nabi shallallaahu
'alaihi wa sallam menemukan Fatimah sedang menggiling tepung. Ia memakai pakaian
dari kulit unta, nabi menangis dan ia berkata, “Wahai Fatimah, kau teguk
kepahitan dunia ini untuk kebagahiaan di akhirat nanti”. Fatimah berkata, “Alhamdulillah
atas segala nikmat-nya dan syukur kepada Allah atas segala anugerah-Nya.” [Tafsir
al-Tsa’labi, Al-Qusyairi, dan al-Dur al-Mantsur]
Kehidupan suami istri adalah ikatan yang sempurna bagi
dua kehidupan manusia untuk menjalin kehidupan bersama. Kehidupan keluarga
dibangun atas dasar kerjasama, tolong menolong, cinta, dan saling menghormati.
Kehidupan Ali dan Fatimah merupakan teladan bagi kehidupan suami istri yang
bahagia. Azzahra senantiasa memberikan semangat kepada suaminya, membantunya
berjihad dan berperang bersama Rasulullah menegakkan kalimat tauhid. Bahkan
dalam peperangan, Fatimah sering ikut dan merawat luka Rasulullah dan suaminya
sendiri. Ia menghilangkan sakitnya, membuang keletihannya, sehingga Ali
mengatakan, “ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku”
[Al-Khawarizmi, Al-Manaqib,hal. 256]
Pembicaraan mereka penuh dengan adab dan sopan santun.
“Ya binta Rasulillah”; wahai putri Rasul, adalah panggilan yang biasa digunakan
Imam Ali setiap kali ia menyapa Fatimah. Sementara Sayyidah Fatimah sendiri
menyapanya dengan panggilan “Ya Amirul Mukminin” wahai pemimpin kaum mukmin.
Demikianlah kehidupan Imam Ali dan Sayyidah Fatimah. Keduanya adalah teladan
bagi pasangan suami-istri, atau pun bagi orang tua terhadap anak-anaknya.
Buah Hati
Keluarga Azzahra dibangun atas dasar cinta dan kasih
sayang kepada suami dan anak-anaknya. Pada tahun ke-2 Hijriah, Fatimah
melahirkan putra pertamanya yang oleh Rasulullah shallallaahu
'alaihi wa sallam diberi nama “Hasan”. Rasul shallallaahu
'alaihi wa sallam sangat bergembira atas kelahiran cucunda ini. Beliau pun
menyuarakan azan pada telinga kanan Hasan dan iqamah pada telinga kirinya,
kemudian dihiburnya dengan ayat-ayat Al-Qur’an.
Setahun kemudian lahirlah Husain. Demikianlah Allah
berkehendak menjadikan keturunan Rasulullah shallallaahu
'alaihi wa sallam dari Fatimah Azzahra. Rasul mengasuh kedua cucunya dengan
penuh kasih dan perhatian. Tentang keduanya beliau senantiasa mengenalkan
mereka sebagai buah hatinya di dunia.
Bila Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam keluar rumah, beliau selalu membawa mereka bersamanya. Beliau pun selalu
mendudukkan mereka berdua di haribaannya dengan penuh kehangatan. Suatu hari
Rasul shallallaahu 'alaihi wa sallam lewat di depan rumah
Fatimah. Tiba-tiba beliau mendengar tangisan Husain. Kemudian Nabi dengan hati
yang pilu dan sedih mengatakan, “Tidakkah kalian tahu bahwa tangisnya
menyedihkanku dan menyakiti hatiku.”
Satu tahun berselang, Fatimah melahirkan Zainab.
Setelah itu, Ummu Kultsum pun lahir. Sepertinya Rasul shallallaahu
'alaihi wa sallam teringat akan kedua putrinya Zainab dan Ummu Kultsum ketika
menamai kedua putri Fatimah itu dengan nama-nama tersebut. Dan begitulah Allah
menghendaki keturunan Rasul shallallaahu
'alaihi wa sallam berasal dari putrinya
Fatimah Azzahra.
Riwayat Keutamaan Azzahra
Muhammad Al Baqir ibn Ali
Assajjad ibn Husain putra Fatimah mengatakan, “Mengapa Fatimah dinamakan
Azzahra?” ia menjawab, “karena Allah menciptakannya dari cahaya
keagungan-Nya, ketika ia bersinar , ia menerangi langit dan bumi dengan cahayanya,
menutupi pandangan-pandangan para malaikat lalu mereka sujud kepada Allah dan
bertanya, “Tuhan kami dan junjungan kami, cahaya apakah ini? Maka Allah
menjawab, ‘ini adalah cahaya dari cahaya-Ku. Aku tempatkan ia dilangit-Ku dan
aku ciptakan dia dari keagungan-Ku. Aku keluarkan dia dari sulbi seorang
Nabi-ku yang Aku utamakan atas sekalian Nabi.. ” [ Al-Bihar, Jus 43. Hal
12]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam mengatakan, “cukuplah bagimu wanita-wanita
di seluruh alam dengan Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid.Fatimah
binti Muhammad, dan Asiyah binti Muzahim” [Kasyf Al-Ghummah, II, hal. 76]
Aisyah mengatakan “Belum
pernah saya melihat seorang pun yang lebih benar bicaranya dibandingkan
Fatimah, kecuali ayahnya.” [Kasyf Alghummah II,hal. 8; Dzakha’ir Al-‘Ukba,
hal. 44]
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam` mengatakan, “wahai Fatimah, sesungguhnya Allah
marah dengan kemarahanmu dan rida dengan keridaanmu” [Yanabi’ Al-Mawaddah,
hal. 99]
Kita ketahui dengan pasti, Allah
tidak akan rida kepada sesuatu yang buruk dan bertentangan dengan kebenaran.
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam juga mengatakan “Fatimah adalah bagian dari
diriku, barang siapa membuatnya marah berarti ia membuatku marah.” [Shahih
Al-Bukhari, II, hal.203]
Dapat kita perhatikan di sini bahwa Fatimah juga memiliki akhlak yang agung serta suci dari dosa dan
kejahatan, karena Nabi sendiri adalah utusan Allah yang suci. Sebagaimana
tentangnya Allah berfirman, “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar, berbudi
pekerti yang luhur.” [QS. Al-Qalam ayat 4]
Fatimah adalah salah satu Ahlulbait (keluarga keturunan Nabi Muhammad shallallaahu
'alaihi wa sallam), yang disebutkan dalam Al-Qur'an “...sesungguhnya
Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” [QS. Al-Ahzaab ayat 33]
Imam Hasan meriwayatkan, “Aku belum pernah melihat
seorang wanita yang lebih alim daripada ibuku. Ia selalu melakukan salat dengan
begitu lama sehingga kakinya menjadi bengkak.” Imam Hasan juga
meriwayatkan:
“Aku melihat ibuku, Fatimah berdiri salat pada malam
Jumat. Beliau meneruskan salatnya dengan rukuk dan sujud sehingga subuh. Aku
mendengar beliau berdoa untuk kaum mu’minin dan mu’minah dengan menyebut
nama-nama mereka. Beliau berdoa untuk mereka semua tetapi beliau tidak berdoa
untuk dirinya sendiri. “Ibu,” Aku bertanya kepada beliau “Mengapa ibu tidak
berdoa untuk diri sendiri sebagaimana ibu berdoa untuk orang lain?” Beliau
menjawab, ”Anakku, (berdoalah) untuk tetangga-tetanggamu diutamakan dan
kemudian barulah dirimu sendiri.” [Bihar al-Anwar, Jilid 43, hlm.81-82; Abu Muhammad
Ordooni, Fatimah The Gracious, hlm.168-169; Sayyid Abdul Razak Kammoonah
Husseini, Al-Nafahat al-Qudsiyyah fi al-Anwar al-Fatimiyyah, Juz 13, hlm.45]
Rasul pernah menyifati putrinya,
Fatimah dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh
Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah
bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat
dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita
seluruh jagat.“
Kecintaan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kepada Fatimah Azzahra merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan
beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan
kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain
itu, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa
sallam biasa memuji seseorang yang memiliki
keutamaan. Beliau mencintai dan memuji Fatimah sedemikian,
semata-mata karena mengetahui kedudukannya yang tinggi. Dialah perempuan
teladan dalam islam.
Pandangan Tentang Perempuan
Fatimah ditanya tentang apa yang
paling baik untuk perempuan? “yang baik bagi perempuan adalah mereka tidak
memandang laki-laki dan laki-laki tidak memandang mereka” beliau ingin
menegaskan disini pentingnya menjaga hijab dan kesucian diri. Fatimah adalah
perempuan yang selalu menjaga harga dirinya dan
memelihara kemuliaannya. Ia berhijab dan keluar dari rumahnya dengan sederhana
tanpa berlebihan, menutupi tubuhnya yang dapat menggoda dan juga perhiasannya
dari laki-laki nonmuhrim, tidak memandang mereka dan mereka tidak memandangnya.
Detik-detik Terakhir Kehidupan Fatimah
Kecintaan Fatimah kepada Tuhan
disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau
bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian
dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan
akhlak yang terpuji.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan
Fatimah diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah
disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang
ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi
persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka,
padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat
dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah
sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga,
pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan
penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung
dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Azzahra mengajarkan kepada semua
orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah
tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan.
Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak
kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya.
Fatimah berkata, “Ya Allah,
perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku,
karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa
berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir kehidupannya
telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta
Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang
Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat
itu Fatimah mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon
kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon
kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku
rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka.
Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka.
Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha
Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum ajal datang menjemputnya,
Fatimah Azzahra menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat
tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku
nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah
ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad
mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau
terima.”
Tak lama sepeninggal Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam,
Sayyidah Fatimah Azzahra menyusul kehadirat Ilahi.
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Azzahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat
meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan.
Playtech Casino - Mapyro
BalasHapusPlaytech Casino 바카라 신규 가입 쿠폰 is an online gambling site providing a wide 군포 출장안마 variety of betting options for 구리 출장마사지 residents of the US. 제천 출장샵 Welcome Bonus: $50 free + 100 통영 출장샵